
Jakarta – Makanan yang terasa lezat belum tentu membuat tubuh dan suasana hati merasa lebih baik. Beberapa jenis makanan dan minuman justru dapat dikaitkan dengan rasa lelah, perubahan mood, hingga munculnya kecemasan setelah dikonsumsi.
Apa yang masuk ke dalam tubuh memang dapat memengaruhi kondisi seseorang secara keseluruhan. Pola makan tinggi lemak, gula, garam, dan karbohidrat olahan, misalnya, dapat membuat tubuh terasa kurang nyaman setelah makan.
Survei di Inggris juga menunjukkan sejumlah makanan populer seperti pizza, fish and chips, serta burger dengan kentang goreng cukup banyak dikaitkan dengan perasaan kurang baik setelah dikonsumsi.
Ahli gizi Lily Soutter menjelaskan bahwa makanan tertentu dapat menyebabkan kembung dan penurunan energi. Sementara itu, pola makan yang kurang bernutrisi juga dapat memengaruhi kesehatan otak dan keseimbangan suasana hati.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa makanan dan minuman yang perlu diperhatikan.
1. Gorengan
Gorengan memang sulit ditolak karena teksturnya renyah dan rasanya gurih. Namun, terlalu sering mengonsumsi makanan yang digoreng bukan pilihan terbaik untuk kesehatan secara keseluruhan.
Sebuah penelitian pada 2023 yang melibatkan sekitar 140.728 orang menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan yang digoreng, terutama kentang goreng, dengan peningkatan risiko kecemasan dan depresi.
Salah satu perhatian dalam proses memasak makanan bertepung pada suhu tinggi adalah terbentuknya akrilamida.
Selain itu, konsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dapat membuat pencernaan terasa kurang nyaman. Kembung dan rasa lelah setelah makan pun pada akhirnya dapat memengaruhi kenyamanan serta suasana hati.
2. Makanan dan Minuman Tinggi Gula
Makanan manis memang dapat memberikan rasa senang dalam waktu singkat. Namun, konsumsi gula dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan perubahan kadar gula darah yang turut memengaruhi energi dan mood.
Setelah kadar gula darah meningkat, tubuh akan mengaturnya kembali. Perubahan tersebut pada sebagian orang dapat disertai rasa lemas atau perubahan suasana hati.
Sumber gula tambahan tidak hanya berasal dari permen dan kue. Soda, donat, minuman buah kemasan, saus manis, cokelat tertentu, hingga beberapa produk sereal sarapan juga bisa mengandung gula cukup tinggi.
Bukan berarti makanan manis harus sepenuhnya dihilangkan. Yang lebih penting adalah membatasi porsinya dan memperhatikan seberapa sering makanan tinggi gula dikonsumsi.
3. Makanan Ultra-Proses
Makanan ultra-proses semakin mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Mi instan, nugget, sosis, keripik kemasan, biskuit, minuman bersoda, makanan beku siap santap, dan berbagai camilan kemasan termasuk di antaranya.
Sebuah penelitian yang dipimpin peneliti Harvard dan diterbitkan di JAMA Network Open pada 2023 menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan risiko depresi pada kelompok perempuan yang diteliti.
Dalam penelitian tersebut, peserta yang mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi memiliki risiko depresi lebih besar dibandingkan kelompok dengan konsumsi lebih rendah.
Meski hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan depresi, temuan ini menjadi alasan untuk tidak menjadikannya sebagai bagian dominan dari pola makan.
Mengutamakan makanan utuh seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan sumber protein yang minim proses dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
4. Minuman Berkafein
Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan energi. Itulah sebabnya kopi, teh, matcha, serta minuman berenergi banyak dikonsumsi ketika seseorang membutuhkan konsentrasi.
Namun, efeknya bisa berbeda jika dikonsumsi terlalu banyak atau terlalu dekat dengan waktu tidur.
Asupan kafein berlebihan dapat membuat sebagian orang merasa lebih gelisah, meningkatkan rasa gugup, atau mengalami kesulitan tidur. Kurang tidur kemudian dapat berpengaruh terhadap energi dan suasana hati pada hari berikutnya.
Kafein juga tidak hanya terdapat pada kopi. Teh, matcha, cokelat, dan minuman energi juga dapat menyumbang asupan kafein.
Karena itu, perhatikan jumlah konsumsi dan respons tubuh masing-masing, terutama jika mudah mengalami gangguan tidur atau merasa cemas setelah mengonsumsi kafein.
5. Alkohol
Alkohol dapat memberikan efek rileks atau euforia sementara. Namun, efek tersebut tidak berlangsung lama dan konsumsi alkohol juga dapat mengganggu kualitas tidur serta memengaruhi kondisi mental.
Setelah efek alkohol berkurang, sebagian orang dapat mengalami rasa cemas atau suasana hati yang lebih buruk. Alkohol juga dapat memengaruhi keseimbangan zat kimia di otak yang berkaitan dengan suasana hati.
Konsumsi dalam jumlah banyak juga dapat menyebabkan kelelahan, pusing, dan rasa tidak nyaman pada keesokan harinya. Kondisi tersebut tentu dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang optimal.
Perhatikan Pola Makan Secara Keseluruhan
Suasana hati seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Kondisi psikologis juga dipengaruhi banyak faktor, termasuk kualitas tidur, aktivitas fisik, stres, kondisi kesehatan, serta pola makan secara keseluruhan.
Karena itu, tidak perlu langsung menganggap satu makanan sebagai penyebab seseorang merasa sedih. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola konsumsi dalam jangka panjang.
Batasi makanan ultra-proses, gorengan, dan makanan tinggi gula, serta konsumsi kafein secara bijak. Lengkapi menu harian dengan makanan bergizi dan beragam agar kebutuhan tubuh tetap terpenuhi.
Jika perubahan suasana hati berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan. Konsultasikan kondisi tersebut dengan tenaga profesional agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.
