
Jakarta – Paprika merah dan hijau sama-sama bisa menjadi pilihan sayuran rendah kalori untuk melengkapi menu sehari-hari. Keduanya dapat ditambahkan ke tumisan, salad, atau berbagai hidangan lainnya.
Meski berasal dari jenis sayuran yang sama, warna paprika menunjukkan tingkat kematangan yang berbeda. Paprika hijau dipanen lebih awal sehingga rasanya cenderung lebih segar dan sedikit pahit. Sementara itu, paprika merah dibiarkan matang lebih lama sehingga rasanya lebih manis.
Perbedaan tersebut juga membuat kandungan nutrisi keduanya tidak sepenuhnya sama. Lantas, apakah paprika merah atau hijau yang lebih menguntungkan jika sedang berusaha menurunkan berat badan?
Ahli gizi Jamie Baham dan Jordan Hill menjelaskan perbedaan keduanya kepada Prevention.
Paprika Merah Lebih Tinggi Vitamin dan Antioksidan
Paprika merah yang sudah matang memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang menonjol. Berdasarkan data USDA, setiap 100 gram paprika merah atau sekitar setengah cangkir paprika yang telah diiris mengandung:
- 31 kalori
- 1 gram protein
- 0 gram lemak
- 7 gram karbohidrat
- 1 gram serat
Salah satu keunggulannya adalah kandungan vitamin C yang tinggi. Paprika merah bahkan menjadi salah satu sumber vitamin C yang baik, dengan kandungan yang dapat melebihi sejumlah buah citrus.
Selain vitamin C, paprika merah menyediakan beta-karoten dan likopen. Kedua senyawa tersebut merupakan antioksidan yang berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, termasuk membantu mendukung kesehatan mata, kulit, dan sistem kekebalan tubuh.
Paprika Hijau Punya Kalori Lebih Rendah
Paprika hijau memiliki profil nutrisi yang sedikit berbeda. Untuk takaran 100 gram, sayuran ini mengandung sekitar:
- 23 kalori
- 1 gram protein
- 0 gram lemak
- 5 gram karbohidrat
- 1 gram serat
Dari sisi kalori, paprika hijau sedikit lebih rendah dibandingkan paprika merah. Kandungan seratnya juga tetap tersedia sehingga dapat menjadi bagian dari menu makan yang mengenyangkan tanpa memberikan banyak kalori.
Paprika hijau juga menyediakan vitamin C, meskipun jumlahnya cenderung lebih rendah dibandingkan paprika merah. Selain itu, warna hijaunya berkaitan dengan keberadaan klorofil, yaitu pigmen tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan.
Bagi kebanyakan orang, paprika hijau aman dikonsumsi. Namun, orang yang memiliki alergi, sensitivitas, atau intoleransi terhadap paprika tentu perlu menyesuaikan konsumsinya.
Mana yang Lebih Cocok untuk Diet?
Jika melihat jumlah kalorinya saja, paprika hijau memiliki sedikit keunggulan. Dalam jumlah 100 gram, paprika hijau menyediakan sekitar 23 kalori, sedangkan paprika merah sekitar 31 kalori.
Namun, selisih tersebut tidak membuat paprika merah menjadi pilihan yang buruk untuk diet. Keduanya sama-sama rendah kalori, tidak mengandung lemak dalam jumlah berarti, dan menyediakan serat.
Menurut Jamie Baham, paprika merah maupun hijau dapat dimasukkan ke dalam pola makan bergizi seimbang. Sayuran ini juga bisa menjadi pilihan camilan renyah, misalnya disantap bersama hummus, atau digunakan sebagai tambahan salad dan tumisan.
Jordan Hill juga menilai kedua jenis paprika tersebut sama-sama bernutrisi. Jika dibandingkan dari kandungan mikronutrisi, paprika merah yang sudah matang cenderung menawarkan lebih banyak vitamin dan senyawa antioksidan.
Tak Perlu Memilih Salah Satu
Pada akhirnya, tidak ada keharusan untuk hanya mengonsumsi paprika merah atau paprika hijau ketika sedang menjalani diet. Keduanya dapat memberikan manfaat dan melengkapi pola makan dengan cara yang berbeda.
Paprika hijau dapat dipilih ketika ingin mendapatkan sayuran dengan kalori sedikit lebih rendah. Sementara paprika merah menawarkan kandungan vitamin dan antioksidan yang lebih tinggi karena telah mencapai kematangan penuh.
Daripada terpaku pada satu warna, mengonsumsi sayuran dengan berbagai warna justru dapat memberikan variasi nutrisi yang lebih beragam. Paprika merah dan hijau pun bisa dikonsumsi secara bergantian sesuai selera dan kebutuhan menu harian.
Yang tidak kalah penting, keberhasilan menurunkan berat badan tidak ditentukan oleh satu jenis sayuran. Pola makan secara keseluruhan, jumlah asupan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup lainnya tetap menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan diet.
