
Jakarta – Ikan dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani yang kaya nutrisi. Meski begitu, tidak semua ikan laut bisa dikonsumsi tanpa batas. Sejumlah jenis ikan diketahui memiliki kandungan merkuri yang cukup tinggi sehingga konsumsinya perlu diperhatikan.
Merkuri pada ikan umumnya berasal dari lingkungan tempat ikan tersebut hidup. Jumlahnya dapat berbeda-beda tergantung jenis ikan, ukuran tubuh, usia, serta tingkat pencemaran di habitatnya.
Sebuah penelitian yang dilakukan M M Storelli dan G O Marcotrigiano pada tahun 2000 mengenai kandungan logam berat pada ikan menunjukkan bahwa ikan yang berukuran besar dan memiliki usia lebih panjang cenderung mengakumulasi merkuri lebih banyak.
Salah satu jenis dengan kandungan merkuri tertinggi adalah ikan todak atau swordfish.
Berdasarkan data Food and Drug Administration (FDA), berikut sejumlah ikan dengan kandungan merkuri yang perlu diperhatikan:
- Ikan todak (swordfish): 0,995 ppm
- Ikan hiu: 0,979 ppm
- Ikan tenggiri raja (king mackerel): 0,730 ppm
- Tuna mata besar (bigeye tuna): 0,689 ppm
- Ikan marlin: 0,485 ppm
- Tuna kalengan: 0,128 ppm
- Ikan kod: 0,111 ppm
- Whitefish: 0,089 ppm
- Ikan haring: 0,084 ppm
- Ikan hake: 0,079 ppm
- Ikan trout: 0,071 ppm
- Ikan haddock: 0,055 ppm
- Ikan whiting: 0,051 ppm
- Ikan tenggiri Atlantik: 0,050 ppm
- Ikan pollock: 0,031 ppm
Mengapa merkuri bisa menumpuk di tubuh ikan?
Dilansir dari Healthline, air laut sebenarnya hanya memiliki kadar metilmerkuri dalam jumlah kecil. Namun, senyawa tersebut dapat diserap oleh organisme laut seperti alga.
Alga kemudian dimakan oleh ikan berukuran kecil. Selanjutnya, ikan kecil menjadi makanan bagi ikan yang lebih besar. Merkuri yang masuk melalui rantai makanan tersebut akhirnya ikut terakumulasi dalam tubuh ikan.
Proses peningkatan konsentrasi zat berbahaya melalui rantai makanan ini disebut biomagnifikasi.
Karena berada di tingkat atas rantai makanan, ikan predator berukuran besar biasanya memiliki kandungan merkuri lebih tinggi. Bahkan, konsentrasinya dapat mencapai beberapa kali lipat dibandingkan ikan yang menjadi mangsanya.
Apa dampak merkuri bagi tubuh?
Paparan merkuri dalam jumlah tinggi dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan, terutama sistem saraf dan jantung.
Beberapa gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan merkuri antara lain:
- Mengganggu fungsi otak
Paparan merkuri dapat dikaitkan dengan penurunan kemampuan motorik halus, daya ingat, ketangkasan, dan perhatian. - Berhubungan dengan gangguan neurologis dan mental
Paparan merkuri telah dikaitkan dalam sejumlah penelitian dengan kondisi seperti Alzheimer, Parkinson, autisme, kecemasan, dan depresi. - Meningkatkan tekanan darah
Kadar merkuri yang tinggi dapat berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular dan dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. - Mempengaruhi kesehatan jantung
Paparan merkuri juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko serangan jantung serta kadar kolesterol LDL yang lebih tinggi.
Apakah harus berhenti makan ikan?
Tidak. Ikan tetap merupakan sumber protein, vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi penting yang bermanfaat bagi tubuh.
Risiko merkuri juga tidak berarti semua jenis ikan harus dihindari. Yang lebih penting adalah memilih jenis ikan dengan kadar merkuri lebih rendah dan membatasi konsumsi ikan yang berada di kelompok tinggi merkuri.
Variasikan pilihan seafood agar tidak terus-menerus mengonsumsi satu jenis ikan, terutama ikan predator besar yang cenderung mengakumulasi lebih banyak merkuri.
Dengan pemilihan jenis dan jumlah yang tepat, manfaat nutrisi dari konsumsi ikan tetap bisa diperoleh tanpa mengabaikan risiko paparan merkuri.
